Blogger Templates

Wednesday, June 3, 2009

WARKAH BUAT ADIKKU

“Saya demi Allah bukanlah pemimpin dan bukan seorang imam. Saya hanya seorang prajurit Islam, seorang murid dan akan tetap sebagai murid yang akan terus menuntut ilmu sampai detik terakhir usia saya,” ucap Al Imam Yusuf Qaradhawi. Dengan segala kerendahan hatinya, ulama besar itu mengatakan bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Bahkan beliau minta maaf kepada siapa saja yang merasa sakit hati karena perkataan maupun perbuatannya.“Manusia, bisa salah dan benar,” katanya sembari menegaskan kembali cita-cita utamanya untuk mati syahid di jalan Allah swt.

Kembali ke realiti wahai adik-adikku….
Dalam kita memberi khid
mat pada masyarakat, pernahkah kita berkata…`Ah, aku tiada idea lagi`..atau pun sekadar mengadakan event mahupun program-program yang berulang, sama walaupun dikatakan tidak serupa??

Tidakkah adik-adikku perasan, betapa kurangnya pemandangan kita dalam mencari ilmu…tanpa ilmu tiadalah idea. Maka tiada la keikhlasan dalam memberi.

Subhanallah…

betapa mulianya sosok seorang Yusuf Qaradhawi. Beliaulah contoh peribahasa “Ibarat padi, semakin berisi, semakin menunduk.” Orang yang makin banyak ilmunya, makin makin pintar, makin kaya dan makin terkenal, akan makin rendah hati dan bijaksana. Bukannya malah sombong dan membanggakan dirinya.

Pernahkah kita menangis karena khawatir seperti Al-Qaradhawi ketika ada orang memuji atau memberi kita gelar kehormatan? Yang sering terjadi, kita menangis karena gembira atau bahagia , karena kita merasa banyak orang yang menghormati dan menyenangi kita, hingga kita dipuji, disanjung dan diberi gelar kehormatan.

Sedarlah adik-adikku,
Berpeganglah pada pri
nsip, bukannya populariti, kerana prinsip itu kekal dan populariti itu pasti mati. Seringkali dalam membuat sesuatu perkara, Promotion Publication (PNP) pasti yg akan menjadi sasaran sekiranya tiada sambutan, tapi pernahkah adik2 berfikir aspek keberkatan??? Aspek ketelusan dalam memberi??

Yang Benar Pasti akan Menang… seorang ustaz, pejuang dan pengajar berkata dalam kuliahnya.

Ringkas dan jelas.

Ah ….

kerendahan hati seorang ulama besar seperti Qaradhawi ibarat setetes embun di padang gersang kehidupan dimana makin banyak orang yang lebih mengejar dunia, mengejar gelar kehormatan, mengejar kekayaan, tanpa menyadari bahwa semuanya itu kelak harus dipertanggunjawabkan di hadapan Allah swt.

Wahai adik akak tersayang,
"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya."

At Taubah: 122

mengapa Albert Eisnstein sampai pada kesimpulan: Science without religion is lame, religion without science is blind. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh (seharusnya lebih tepat dikatakan buta), agama tanpa ilmu adalah buta (lebih tepat dikatakan lumpuh).

Dan agama Islam juga menekankan bahwa jalan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat itu adalah ilmu. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:“Barangsiapa menginginkan kebahagiaan dunia maka ia harus mencapainya dengan ilmu; barangsiapa menginginkan kebahagiaan akhirat maka ia harus mncapainya dengan ilmu, dan barangsiapa menginginkan kebahagiaan kedua-duanya maka ia harus mencapainya dengan ilmu.” (Hadits riwayat Thabarani)

Mampukah kita memberi andai tidak memiliki???
erti hidup untuk memberi...

No comments:

Post a Comment